BAB I. PENDAHULUAN
A. Ringkasan Artikel
126 Unit Depdiknas Raih Sertifikat ISO
Seputar Indonesia, Sabtu 18 Oktober 2008
Mendiknas Bambang Sudibyo menyatakan, 126 dari 136 unit di lingkungan Depdiknas telah menerima sertifikat ISO. Ditargetkan, pada akhir tahun semua unit telah bersertifikat ISO, terutama Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan Badan Standardisasi Nasional Pendidikan (BNSP), Hal ini membuktikan Depdiknas telah mengelola keuangan secara transparan dan akuntabel.
Depdiknas masih membenahi sistem keuangan dan pengelolaan aset yang diakui Bambang masih lemah. Selama ini pengelolaan akutansi belum dianggap penting dan krusial.
Diketahui sebelumnya, berdasarkan hasil pemeriksaan BPK terhadapa Depdiknas hingga semester II/2007, ICW menemukan penyimpangan pengelolaan aset di Depdiknas sebesar Rp.815,570miliar. Upaya pembenahan keuangan ini disambut positif oleh Koordinator Pelayanan Publik ICW, Ade Ira Irawan. Namun pembenahan aset dan keuangan sebaiknya dilakukan secara holistik dan berkesinambungan, tidak hanya parsial.
B. Perumusan Masalah dalam Artikel
Kinerja berbagai lembaga pemerintahan sangat memprihatinkan, mulai dari jam kerja yang sangat longgar hingga masalah suap yang dilakukan oleh hampir semua level pegawai, termasuk di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Hal ini disebabkan karena lemahnya sistem yang mengatur pola kerja dan pengawasan. Tentu saja lemahnya kinerja ini sangat dirasakan oleh semua ’pelanggan’ yang memerlukan pelayanan, baik dari pihak karyawan itu sendiri, guru, siswa, dan masyarakat secara umum.
Dilain pihak, era globalisasi menuntut tersedianya sumber daya manusia yang benar- benar siap berkompetisi. Lembaga-lembaga pendidikan, pemerintah dan masyarakat harus mampu mempersiapkan generasi yang kompeten, bermutu, memiliki integritas dan profesional sehingga mampu menjadi subjek, tidak sekedar objek dalam percaturan dunia global.
Oleh karena itu profesionalisme harus dimulai kinerja pemerintah, dalam hal ini Depdiknas, serta lembaga pendidikan lainnya, yang diwujudkan dalam bentuk penerapan sistem manajemen mutu. Untuk berkompetisi di dalam negeri, mungkin akreditasi dari BAN sudah mencukupi, namun bila ingin diakui di negara-negara lain, perlu menerapkan sistem manajemen mutu lainnya, misalnya ISO.
C. Pemecahan Masalah
Penerapan sistem manajemen mutu, yang selama ini diterapkan di industri, mutlak perlu di adopsi oleh lembaga pemerintahan, termasuk di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional. Dengan mengaplikasikan sistem mutu, misalnya ISO, dan dikukuhkan dengan sertifikasi, diharapkan kinerja dan transparansi lembaga pendidikan menjadi lebih baik dan memberikan pelayanan terbaik demi kemajuan pendidikan bangsa.
Meskipun dalam artikel hanya disorot masalah akuntabilitas keuangan yang lebih transparan setelah sertifikasi ISO, namun aspek yang diharapkan meningkat setelah proses sertifikasi ini tidak hanya pada masalah keuangan, tetapi juga kinerja secara umum.
D. Tujuan Kajian
Tujuan yang ingin dicapai dalam kajian ini adalah untuk memberikan gambaran bahwa sistem manajemen mutu harus diterapkan di lingkungan Pendidikan Nasional agar kinerja lembaga lebih profesional dan outcome yang dihasilkan lebih baik.
BAB II. LANDASAN TEORITIK
A. Konsep Dasar Manajemen Mutu Terpadu
Menurut Sallis1, Total Quality Management adalah sebuah filosofi tentang perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan dan harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk masa yang akan datang.
Sementara Patricia Kovel-Jarboe dalam Syafaruddin2 menyatakan bahwa manajemen mutu terpadu adalah suatu filosofi komprehensif tentang kehidupan dan kegiatan organisasi yang menekankan pada perbaikan berkelanjutan sebagai tujuan fundamental untuk meningkatkan mutu, produktivitas dan mengurangi pembiayaan. Adapun istilah yang bersamaan maknanya dengan TQM adalah Continous Quality Improvement (CQI) atau perbaikan mutu berkelanjutan.
Manajemen mutu terpadu menurut Syafaruddin 3 adalah suatu teori ilmu manajemen yang mengarahkan pimpinan organisasi dan personelnya untuk melakukan program perbaikan mutu secara berkelanjutan yang terfokus pada pencapaian kepuasan (expectation) para pelanggan.
Dengan demikian, Total Quality Management adalah suatu konsep managemen dengan berlandaskan keinginan untuk memuaskan pelanggan yang hanya dapat terpenuhi dengan perbaikan yang berkelanjutan.
1. Edward Sallis, Total Quality Managemen in Education Terjemahan Ahmad Ali Riyadi – Manajemen Mutu Pendidikan, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2008) p.73
2. Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Konsep Strategi dan Aplikasi, (Jakarta: Grasindo, 2002), p. 29
3. Ibid, p.31
B. TQM dalam Pendidikan
Keberadaan manajemen mutu terpadu dalam pendidikan buanlah suatu strategi manajemen yag tiba-tiba muncul tetapi telah dilatar belakangi perkembangan scientific managemen dan perkembangan dunia industri di Jepang, Amerika dan Inggris.
Semua ini memunculkan alasan rasional bagi penerapannya dalam dunia pendidikan mengingat fleksibilitas konsep manajemen mutu terpadu untuk diadopsi para pengelola pendidikan. Apalagi pengelolaan sekolah juga memliki karakteristik pelanggan (internal dan eksternal) dan pendidikan memerlukan tindakan proaktif untuk melakukan perbaikan terus menerus terhadap mutu lulusannya agar sesuai dengan harapan pelanggan pendidikan.
Menurut Sallis4 , pendidikan adalah jasa yang berupa proses pembudayaan. Pengertian ini berimpikasi pada adanya pemasukan (input) dan keluaran (output). Masukan adalah peserta didik, sarana, prasarana dan lingkungan. Sedangkan keluaran adalah lulusan atau alumni, mungkin hasil penelitian pelayanan profesional dari perguruan tinggi yang kemudian menjadi ukuran mutu5 dan produk yang diberikan lembaga pendidikan adalah jasa pelayanan. Mutu jasa pelayanan pendidikan sangat tergantung pada sikap pemberi pelayanan di lapangan dan sikap serta harapan pemakai jasa pendidikan.
Dalam buku yang sama Sallis menyatakan bahwa pelanggan dalam dunia pendidikan terdiri dari pelanggan internal dan pelanggan eksternal.
1. Pelanggan internal, setiap orang yang bekerja dalam institusi memberikan jasa seperti karyawan dan staf. Hubungan internal yang kurang baik akan menghalangi perkembangan institusi dan akhirnya membuat pelanggan eksternal menderita.
4. Edward Sallis, Total Quality Managemen in Education Terjemahan Ahmad Ali Riyadi – Manajemen Mutu Pendidikan, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2008) p.85
5. Mutu adalah sifat-sifat jasa dan hasil yang sesuai dengan dan bahkan melebihi harapan, keinginan dan kebutuhan para pelanggan, baik masa kini maupun pada masa yang akan datang
Salah satu tujuan TQM adalah untuk merubah institusi yang mengoperasikannya menjadi sebuah tim yang ikhlas, tanpa konflik dan kompetisi internal untuk meraih tujuan tunggal yaitu memuaskan pelanggan.
2. Pelanggan eksternal
- Pelanggan utama adalah pelajar yang secara langsung menerima jasa.
- Pelanggan kedua adalah orang tua, atau sponsor yang memiliki kepentingan langsung secara individu maupun institusi.
- Pelanggan ketiga yaitu pihak yang memiliki peran penting seperti masyarakat dan pemerintah.
BAB III. PEMBAHASAN
Seperti halnya dunia industri, sudah saatnya institusi pendidikan mengembangkan sistem mutu agar dapat membuktikan kepada publik bahwa mereka dapat memberikan layanan yang baik. Mutu bukanlah suatu gagasan yang dirancang untuk menambah beban guru dan institusi. Mutu, khususnya Total Quality Management (TQM), merupakan sebuah filosofi dan metodologi yang membantu institusi untuk merencanakan perubahan dan mengatur agenda dalam menghadapi tekanan eksternal. Esensi TQM adalah perubahan budaya (change of culture). Perubahan budaya akan terwujud jika semua staf pendidik merasa yakin bahwa pengembangan mutu akan membawa dampak positif bagi mereka dan akan menguntungkan para anak didik.
Peningkatan mutu menjadi semakin penting digunakan untuk memperoleh kontrol yang lebih baik. Instistusi pendidikan harus menunjukan bahwa mereka mampu memberikan pendidikan yang bermutu pada peserta didik. Fokus terhadap pelanggan, dalam dunia pendidikan berarti peserta didik, yang merupakan poin inti dari mutu, merupakan salah satu cara paling efektif dalam menghadapi kompetisi dan bertahan di dalamnya.
Untuk mencapai kepuasan pelanggan pendidikan hari ini dan masa depan, maka hal yang mendasar untuk diperhatikan adalah pengembangan manajemen yang kuat, tim manajemen dalam rencana spesifikasi, penyampaian hasil mutu organisasi, visi dan misi yang jelas, strategi dan tujuan yang jelas, pembiayaan sekolah, pemanfaatan lulusan dan operasional rencana, terutama pengembangan kurikulum secara berkelanjutan.
Mutu bukanlah sesuatu yang terjadi secara tiba-tiba dan muncul dihadapan para guru, karyawan dan kepala sekolah. Mutu harus direncanakan. Karena itu ada trilogi mutu, yaitu perencanaan mutu, pengawasan mutu dan perbaikan mutu. Mutu terpadu (total quality) adalah sesuatu yang diraih dengan berkelanjutan yang berarti setiap orang dalam organisasi dilibatkan dalam mencapai produk yang diharapkan dengan pelayanan terhadap pelanggan.
Perolehan sertifikat ISO pada unit-unit di lingkungan Depdiknas menunjukkan bahwa proses yang dijalankan di unit tersebut telah memenuhi standar. Salah satu konsep yang ada dalam standar adalah bahwa sistem mutu harus dapat menghasilkan produk dan mutu yang konsisten dan meyakinkan. Produk di lingkungan unit Depdiknas menunjukkan jasa dan pelayanan yang diberikan, sedangkan pada lembaga pendidikan cenderung merujuk pada siswa atau pelajar.
Dalam artikel diatas dinyatakan bahwa transparansi dan akuntabilitas keuangan di unit-unit Depdiknas akan semakin baik dengan perolehan sertifikat ISO. Dengan harapan tidak akan terjadi lagi penyimpangan-penyimpangan penggunaan dana yang disinyalir oleh ICW.
Divisi atau bagian keuangan merupakan salah satu unit yang ada dalam sebuah lembaga. Prinsip dasar suatu sistem mutu adalah bagaimana mengatur dan mendokumentasikan seluruh aspek kegiatan secara konsisten mulai dari awal hingga akhir proses. Seluruh kegiatan tercatat dengan lengkap dan rapi, karena jika ada penyimpangan, penyebabnya harus dapat ditelusuri berdasarkan data yang ada. Dengan demikian, perolehan sertifikat ISO berimplikasi pada kinerja yang baik pada semua bagian, tidak hanya bagian keuangan saja. Seharusnya, kualitas pelayanan jasa atau produk yang dihasilkan oleh unit Depdiknas tersebut akan lebih baik juga.
Suatu hal yang sulit dan memerlukan waktu yang lama dalam penerapan sistem mutu adalah perubahan budaya. Staf dalam institusi harus memahami dan melaksanakan pesan moral TQM agar membawa dampak. Dua hal yang dilakukan staf untuk menghasilkan mutu:
1. Staf membutuhkan lingkungan yang cocok untuk bekerja, misalnya sistem dan prosedur yang dapat memotivasi dan meningkatkan kinerja
2. Staf memerlukan lingkungan yang mendukung dan menghargai kesuksesan dan prestasi yang mereka raih. Mereka memerlukan pemimpin yang dapat menghargai prestasi dan membimbing mereka untuk meraih sukses yang lebih besar.
TQM adalah sebuah kerja keras untuk mengembangkan kultur mutu dan diperlukan waktu. TQM membutuhkan mental juara yang mampu menghadapi tantangan dan perubahan dalam pendidikan. TQM mengharuskan kesetiaan jangka panjang staf senior terhadap institusi karena tidak menutup kemungkinan manajemen senior sendiri bisa menjadi problem, misalnya dengan sikap kembali pada metode manajemen tradisional. Mutu harus selalu menjadi prioritas utama dalam agenda. Dalam hal ini perencanaan strategis memiliki peranan penting dan membantu staf untuk memahami misi institusi serta menjembatani jurang dalam komunikasi.
BAB IV. KESIMPULAN
Total Quality Management (TQM) atau Manajemen Mutu Terpadu merupakan sebuah pendekatan praktis namun strategis dalam menjalankan roda organisasi yang memfokuskan diri pada kebutuhan pelanggan dan kliennya. Tujuannya adalah untuk mencari hasil yang lebih baik.
TQM sangat diperlukan di segala bidang. Kaitannya dengan pendidikan, pada dasarnya TQM adalah proses yang berkaitan dengan perbaikan secara terus menerus, yang dapat memberikan seperangkat alat praktis kepada setiap institusi pendidikan dalam memenuhi kebutuhan, keinginan, dan harapan para pelanggannya, saat ini dan untuk masa yang akan datang.
Perolehan sertifikat ISO pada unit-unit di lingkungan Depdiknas menunjukkan bahwa proses yang dijalankan di unit tersebut telah memenuhi standar. Salah satu konsep yang ada dalam standar adalah bahwa sistem mutu harus dapat menghasilkan produk dan mutu yang konsisten dan meyakinkan. Dengan demikian, perolehan sertifikat ISO berimplikasi pada kinerja yang baik pada semua bagian, baik keuangan maupun kualitas pelayanan jasa atau produk yang dihasilkan..
DAFTAR PUSTAKA
Sallis, Edward. Total Quality Managemen in Education Terjemahan Ahmad Ali Riyadi – Manajemen Mutu Pendidikan, Jogjakarta: IRCiSoD, 2008
Syafaruddin, Manajemen Mutu Terpadu dalam Pendidikan, Konsep Strategi dan Aplikasi, Jakarta: Grasindo, 2002
Jumat, 12 November 2010
Sabtu, 30 Oktober 2010
Silakan klik artikel yang akan anda baca.....
Sosiologi Pendidikan
- Nilai Sosial, Etika Sosial, Konflik Sosial
Filsafat Pendidikan
- Hakikat Kehidupan
- Ibnu Rusyd
Paradigma Baru Pembelajaran
- Mind Map Accelerated Learning
- Mind Map
Metodologi Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
MP
- TQM Pendidikan
SMPIT Mentari Ilmu Karawang
SMP Islam Terpadu Mentari Ilmu
Jl. Soka 25 Guro II Karawang
Email: mentariilmu@yahoo.com
Blog : http://mentariilmu.wordpress.com
Lowongan Pengajar
Jl. Soka 25 Guro II Karawang
Email: mentariilmu@yahoo.com
Blog : http://mentariilmu.wordpress.com
Lowongan Pengajar
Lembaga Pendidikan SMPIT Mentari Ilmu Karawang membutuhkan tenaga pengajar (untuk tahun ajaran 2012-2013), semua bidang studi dengan kualifikasi sebagai berikut :
1. Ikhwan/Akhwat usia maksimal 30 tahun
2. S1/Akta I V
3. Mampu membaca Al Qur’an dengan baik dan benar
4. Menguasai bahasa Arab atau bahasa Inggris
5. Hafal Al Qur’an minimal 5 juz (untuk guru dirosah) atau 2 juz (untuk guru non-dirosah)
6. Menguasai komputer
Alamat surat:
Jl. Soka no. 25 Guro II Karawang 41315
Tlp. 0267 8453155
email : mentariilmu@yahoo.com Kamis, 21 Oktober 2010
Hakikat Pendidikan
Di suatu Jum’at pagi ba’da Idul Fitri, bis merah yang kutumpangi memasuki Terminal Baranangsiang. Jadwal kuliah pukul 13.00, berarti tiga jam lagi. Waktu luang itu saya manfaatkan untuk bersilaturahmi dengan keluarga jauh di kota hujan ini, dengan perkiraan masih bisa tiba di kampus tepat waktu.
Namun kemacetan lalu lintas tidak dapat diprediksi. Saya tergopoh-gopoh masuk ruang kuliah. Dosen melirik tajam, maklum terlambat hampir tiga perempat jam. Akhirnya saya duduk dibelakang, padahal biasanya ada di deretan paling depan, sambil menarik nafas dan berusaha mulai menyiapkan perhatian menerima materi kuliah. Nampaknya dosen sedang menjelaskan konsep teori perencanaan pendidikan dan diselingi filsafat pendidikan.
Seorang teman berkomentar, “Bu, ngapain kita belajar teori-teori ini. Toh nanti ngga dipakai karena akhirnya teori tersebut digugurkan oleh teori lainnya. Kalaupun kita paham teori ini, belum tentu anak-anak jadi pinter. Lagian kalo mau, contoh dari Rasul sudah ada dan terbukti benar”. Sang teman ini terus berargumentasi.
Saya memasang senyum namun diam tak berkomentar, ada setuju dan tidak setuju dengan pernyataannya. Saya sih berbaik sangka saja. Pasti kurikulum Manajemen Pendidikan ini telah diperhitungkan dengan matang dan pasti materi ini merupakan sesuatu yang harus diketahui oleh mahasiswa. Dan lagi, semakin banyak pengetahuan, wawasan bertambah luas sehingga ketika menghadapi suatu permasalahan kita memiliki berbagai pendekatan untuk menyelesaikannya. (Namun sebetulnya, saya belum benar-benar ‘connect’ dengan situasi yang ada dan belum memahami penjelasan dosen).
Tiga jam perjalanan pulang, di atas bis saya termenung, mereview dan rewind semua yang terjadi hari itu, hingga pada perkataan teman saya tadi. Terngiang kembali pernyataannya, yang jika dikaji lebih mendalam maksudnya seperti ini, yang pertama, “Untuk apa kita mempelajari teori-teori perencanaan dan filsafat pendidikan, kalau akhirnya tidak dipakai?”. dan yang kedua, “Rasulullah telah mencontohkan bagaimana cara mendidik” Baru saya sadar mengapa saya tidak setuju dengan pernyataan pertama dan sangat setuju dengan pernyataan kedua.
Manfaat mempelajari Filsafat
Tidak ada ruginya kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan, karena ilmu itu bertujuan untuk membuat hidup lebih baik. Dengan filsafat kita akan tahu dasar segala sesuatu. Misalnya Aliran Fenomenologi-nya Edmund Husserl, memiliki program utama mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan, kembali kepada kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Ilmu pengetahuan bagi Husserl dapat mengantarkan pada pengalaman-pengalaman baru yang eksklusif tersendiri secara subjektif transendental.
Atau menurut Eksistensialisme dari Jean Paul Sartre yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. Jadi dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya.
Benar pula pendapat Pragmatisme, William James, berdasarkan kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti guna, tindakan, atau perbuatan. Satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya. Jadi, pengertian atau keputusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”.
Aliran-aliran filsafat lain pun, saya yakin, berasal dari hasil pemikiran mendalam, dan dirasakan sebagian kebenarannya. Namun keterbatasan filsafat adalah semua pemikiran didasarkan pada rasio semata. Kemanfaatannya hanya dirasakan sepanjang hidup manusia di dunia dan dalam kurun masa tertentu. Sebagai umat beragama, tentunya kita percaya bahwa ada kehidupan abadi setelah kematian. Dan hal ini hanya dapat diterima oleh keyakinan, oleh hati (qolbun).
Inilah kekurangan, dimana para calon pendidik hanya dibekali pendapat-pendapat filosof barat, yang nota bene jauh dari agama dan cenderung sekuler. Ketika motivasi mendidik hanya didasarkan filsafat rasio, maka pendidikan tidak akan ’menyentuh’ ruhiah anak didik sehingga tidak mengherankan anak didik yang dihasilkan hanya cerdas secara intelektual.
(Dikemudian hari saya pernah bertanya kepada dosen filsafat pendidikan, mengapa para pendidik yang sebagian besar muslim dengan anak didik mayoritas muslim pula, tapi tidak dibekali dengan filsafat pendidikan Islam. Konsep-konsep ke-Islaman hanya diperoleh pada materi agama sehingga seolah-olah kiblat dan dasar filsafat pendidikan hanya ada di barat. Namun dosen saya tetap dengan pendapatnya bahwa konsep filsafat dan agama memiliki pendekatan yang berbeda, dan filsafat lebih dapat diterima secara universal.)
Padahal dengan menanamkan landasan bertidak pada tujuan hakiki, seolah-olah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan motivasi akhirat, insyaallah tujuan-tujuan duniawi akan tercapai.
Pendidik dan mendidik ala Rasulullah
Hakikat yang beranjak dari qolbun inilah yang harus ditumbuhkembangkan dalam diri seorang pendidik, sehingga membuahkan hasil pada dirinya sendiri serta anak didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga emosional dan spiritualnya.
Pendidik akan menyadari keutamaanya bahwa:
- mendidik adalah pengamalan ilmu yang berguna, sebagai satu dari tiga pahala yang tidak akan terputus meskipun telah meninggal
- pahala mendidik adalah laksana bonus pada multilevel marketing ketika anak didiknya mengamalkan ilmu yang diberikannya
- keteladanan harus benar-benar diterapkan karena Allah menyatakan ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri” (QS Al Baqarah 44)
Dengan demikian akan tercipta pendidik yang memiliki orientasi hakiki, yang mampu mengajak anak didik menuju orientasi hakiki pula. Keikhlasan dan tekad yang kuat untuk membina generasi, akan mampu menyadarkan anak didik bahwa:
- menuntut ilmu adalah ibadah
- menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat, bagi semua orang
- menuntut ilmu memerlukan pengorbanan waktu, materi dan tenaga, yang harus dikejar hingga ke tempat jauh
Tentu saja konteks pemahaman hakikat menuntut ilmu ini disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik.
Bis mulai meninggalkan tol Karawang Barat ketika saya ber’azzam’: saya ingin mencapai tujuan hakiki dalam hidup ini, kebahagiaan dunia akhirat, karena saya ingin anak didik sayapun berorientasi sama. Saya harus memberi contoh yang baik, karena tanpa suri tauladan, kepatuhan anak didik merupakan kepatuhan semu belaka. Saya ingin menanamkan keimanan yang kuat, karena hanya dengan keimanan, ilmu pengetahuan apapun menjadi bermanfaat bagi umat manusia. Saya harus terus mengasah ESQ, agar menghasilkan ’produk’ yang juga cerdas emosional dan spiritualnya. Dan sederet keinginan lainnya terus berkecamuk dalam pikiran saya.
Tak terasa, bis memasuki Terminal Klari, nampak suami dan ketiga anakku telah menunggu. Ada perasaan bersalah terhadap mereka. Seharusnya diakhir pekan ini saya menghabiskan waktu dan bercengkrama di rumah. Saya berdoa, semoga pengorbanan mereka tidak sia-sia mengingat keinginan saya untuk memberikan kontribusi yang lebih baik pada generasi penerus di kota Karawang ini.
Karawang, Oktober 2008
Namun kemacetan lalu lintas tidak dapat diprediksi. Saya tergopoh-gopoh masuk ruang kuliah. Dosen melirik tajam, maklum terlambat hampir tiga perempat jam. Akhirnya saya duduk dibelakang, padahal biasanya ada di deretan paling depan, sambil menarik nafas dan berusaha mulai menyiapkan perhatian menerima materi kuliah. Nampaknya dosen sedang menjelaskan konsep teori perencanaan pendidikan dan diselingi filsafat pendidikan.
Seorang teman berkomentar, “Bu, ngapain kita belajar teori-teori ini. Toh nanti ngga dipakai karena akhirnya teori tersebut digugurkan oleh teori lainnya. Kalaupun kita paham teori ini, belum tentu anak-anak jadi pinter. Lagian kalo mau, contoh dari Rasul sudah ada dan terbukti benar”. Sang teman ini terus berargumentasi.
Saya memasang senyum namun diam tak berkomentar, ada setuju dan tidak setuju dengan pernyataannya. Saya sih berbaik sangka saja. Pasti kurikulum Manajemen Pendidikan ini telah diperhitungkan dengan matang dan pasti materi ini merupakan sesuatu yang harus diketahui oleh mahasiswa. Dan lagi, semakin banyak pengetahuan, wawasan bertambah luas sehingga ketika menghadapi suatu permasalahan kita memiliki berbagai pendekatan untuk menyelesaikannya. (Namun sebetulnya, saya belum benar-benar ‘connect’ dengan situasi yang ada dan belum memahami penjelasan dosen).
Tiga jam perjalanan pulang, di atas bis saya termenung, mereview dan rewind semua yang terjadi hari itu, hingga pada perkataan teman saya tadi. Terngiang kembali pernyataannya, yang jika dikaji lebih mendalam maksudnya seperti ini, yang pertama, “Untuk apa kita mempelajari teori-teori perencanaan dan filsafat pendidikan, kalau akhirnya tidak dipakai?”. dan yang kedua, “Rasulullah telah mencontohkan bagaimana cara mendidik” Baru saya sadar mengapa saya tidak setuju dengan pernyataan pertama dan sangat setuju dengan pernyataan kedua.
Manfaat mempelajari Filsafat
Tidak ada ruginya kita mempelajari suatu ilmu pengetahuan, karena ilmu itu bertujuan untuk membuat hidup lebih baik. Dengan filsafat kita akan tahu dasar segala sesuatu. Misalnya Aliran Fenomenologi-nya Edmund Husserl, memiliki program utama mengembalikan filsafat ke penghayatan sehari-hari subjek pengetahuan, kembali kepada kekayaan pengalaman manusia yang konkret, lekat, dan penuh penghayatan. Ilmu pengetahuan bagi Husserl dapat mengantarkan pada pengalaman-pengalaman baru yang eksklusif tersendiri secara subjektif transendental.
Atau menurut Eksistensialisme dari Jean Paul Sartre yang menekankan pada manusia, dimana manusia dipandang sebagai suatu mahluk yang harus bereksistensi, mengkaji cara manusia berada di dunia dengan kesadaran. Dapat dikatakan pusat renungan eksistensialisme adalah manusia konkret. Jadi dapat disimpulkan bahwa eksistensialisme memandang manusia sebagai suatu yang tinggi, dan keberadaannya itu selalu ditentukan oleh dirinya, karena hanya manusialah yang dapat bereksistensi, yang sadar akan dirinya dan tahu bagaimana cara menempatkan dirinya.
Benar pula pendapat Pragmatisme, William James, berdasarkan kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti guna, tindakan, atau perbuatan. Satu-satunya ukuran bagi berpikir ialah gunanya. Jadi, pengertian atau keputusan itu benar, jika pada praktek dapat dipergunakan. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”.
Aliran-aliran filsafat lain pun, saya yakin, berasal dari hasil pemikiran mendalam, dan dirasakan sebagian kebenarannya. Namun keterbatasan filsafat adalah semua pemikiran didasarkan pada rasio semata. Kemanfaatannya hanya dirasakan sepanjang hidup manusia di dunia dan dalam kurun masa tertentu. Sebagai umat beragama, tentunya kita percaya bahwa ada kehidupan abadi setelah kematian. Dan hal ini hanya dapat diterima oleh keyakinan, oleh hati (qolbun).
Inilah kekurangan, dimana para calon pendidik hanya dibekali pendapat-pendapat filosof barat, yang nota bene jauh dari agama dan cenderung sekuler. Ketika motivasi mendidik hanya didasarkan filsafat rasio, maka pendidikan tidak akan ’menyentuh’ ruhiah anak didik sehingga tidak mengherankan anak didik yang dihasilkan hanya cerdas secara intelektual.
(Dikemudian hari saya pernah bertanya kepada dosen filsafat pendidikan, mengapa para pendidik yang sebagian besar muslim dengan anak didik mayoritas muslim pula, tapi tidak dibekali dengan filsafat pendidikan Islam. Konsep-konsep ke-Islaman hanya diperoleh pada materi agama sehingga seolah-olah kiblat dan dasar filsafat pendidikan hanya ada di barat. Namun dosen saya tetap dengan pendapatnya bahwa konsep filsafat dan agama memiliki pendekatan yang berbeda, dan filsafat lebih dapat diterima secara universal.)
Padahal dengan menanamkan landasan bertidak pada tujuan hakiki, seolah-olah, sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui. Dengan motivasi akhirat, insyaallah tujuan-tujuan duniawi akan tercapai.
Pendidik dan mendidik ala Rasulullah
Hakikat yang beranjak dari qolbun inilah yang harus ditumbuhkembangkan dalam diri seorang pendidik, sehingga membuahkan hasil pada dirinya sendiri serta anak didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual tapi juga emosional dan spiritualnya.
Pendidik akan menyadari keutamaanya bahwa:
- mendidik adalah pengamalan ilmu yang berguna, sebagai satu dari tiga pahala yang tidak akan terputus meskipun telah meninggal
- pahala mendidik adalah laksana bonus pada multilevel marketing ketika anak didiknya mengamalkan ilmu yang diberikannya
- keteladanan harus benar-benar diterapkan karena Allah menyatakan ”Mengapa kamu suruh orang lain mengerjakan kebaikan, sedang kamu melupakan dirimu sendiri” (QS Al Baqarah 44)
Dengan demikian akan tercipta pendidik yang memiliki orientasi hakiki, yang mampu mengajak anak didik menuju orientasi hakiki pula. Keikhlasan dan tekad yang kuat untuk membina generasi, akan mampu menyadarkan anak didik bahwa:
- menuntut ilmu adalah ibadah
- menuntut ilmu adalah kewajiban sepanjang hayat, bagi semua orang
- menuntut ilmu memerlukan pengorbanan waktu, materi dan tenaga, yang harus dikejar hingga ke tempat jauh
Tentu saja konteks pemahaman hakikat menuntut ilmu ini disesuaikan dengan tingkat pemahaman peserta didik.
Bis mulai meninggalkan tol Karawang Barat ketika saya ber’azzam’: saya ingin mencapai tujuan hakiki dalam hidup ini, kebahagiaan dunia akhirat, karena saya ingin anak didik sayapun berorientasi sama. Saya harus memberi contoh yang baik, karena tanpa suri tauladan, kepatuhan anak didik merupakan kepatuhan semu belaka. Saya ingin menanamkan keimanan yang kuat, karena hanya dengan keimanan, ilmu pengetahuan apapun menjadi bermanfaat bagi umat manusia. Saya harus terus mengasah ESQ, agar menghasilkan ’produk’ yang juga cerdas emosional dan spiritualnya. Dan sederet keinginan lainnya terus berkecamuk dalam pikiran saya.
Tak terasa, bis memasuki Terminal Klari, nampak suami dan ketiga anakku telah menunggu. Ada perasaan bersalah terhadap mereka. Seharusnya diakhir pekan ini saya menghabiskan waktu dan bercengkrama di rumah. Saya berdoa, semoga pengorbanan mereka tidak sia-sia mengingat keinginan saya untuk memberikan kontribusi yang lebih baik pada generasi penerus di kota Karawang ini.
Karawang, Oktober 2008
Langganan:
Postingan (Atom)



